Indonesia

2006 Dari Yogyakarta

Seorang bruder baru-baru ini mengunjungi keluarganya di Yogyakarta, Indonesia. Pada tanggal 27 Mei kota ini digoncang oleh gempa yang sangat kuat dengan pusat gempa di Bantul, di luar kota Yogyakarta. Inilah beberapa hal yang ingin dia bagikan

Perlahan-lahan bantuan telah menjangkau para korban dan kehidupan sehari-hari telah beranjak dari tingkat darurat menuju ke tingkat pembangunan kembali. Di Bantul dan Gantiwarno, ribuan keluarga hidup di bawah tenda. Mereka masih takut untuk tinggal di dalam rumah mereka. Pekerjaan telah dimulai dengan pembersihan reruntuhan bangunan-bangunan. Setelah gempa-gempa susulan semakin berkurang, masyarakat sekarang bisa mulai memperbaiki rumah mereka sedikit demi sedikit. Banyak rumah yang mengalami kerusakan berat dihancurkan untuk alasan keamanan. Sehingga masyarakat membangun tenda-tenda di tempat di mana rumah mereka dulu berdiri. Karena kekurangan dana, keadaan ini akan berlangsung cukup lama.

Banyak bangunan-bangunan umum seperti sekolah-sekolah, pasar, puskesmas dll, juga rusak. Mgr. Suharyo, Uskup dari Keuskupan Agung Semarang, mengingatkan orang-orang bahwa kepentingan mendesak untuk memulai membangun kembali adalah secara gotong royong, sebuah nilai yang berlaku di masyarakat Indonesia. Salah satu pelajaran untuk membangun kembali adalah setelah bencara tsunami di Aceh adalah kebutuhan untuk membangun kembali secara bersama-sama dengan masyarakat. Di Aceh, beberapa Organisasi Non Pemerintah bekerja dengan cara yang sangat profesional di mana banyak hal diukur dalam jangka waktu pembayaran. Dalam jangka panjang, ini telah merubah pendapat orang-orang untuk bekerja.

Uskup juga menyatakan bahwa prioritas pembangunan dalam lingkup Keuskupan ini adalah bangunan-bangunan umum, misalnya sekolah-sekolah atau klinik-klinik. Gereja-gereja yang rusak akan diperbaiki setelah masyarakat mampu untuk memperbaiki rumah mereka. Dia mengirimkan salam hangatnya kepada semua bruder. Dia menggaris-bawahi semangat untuk saling berbagi dan berterima kasih atas apa yang telah disumbangkan oleh Komunitas. Bangunan gereja di paroki saya juga telah rusak. Hari Minggu yang lalu, kami merayakan Perayaan Ekaristi di ruang tambahan gereja dan tiga perempat dari orang-orang yang hadir untuk upacara tersebut berada di luar.

Minggu ini telah dimulai musim liburan sekolah. Mungkin dalam jangka waktu enam bulan dibutuhkan untuk memperbaiki sekolah-sekolah. Sementara ini, jalan keluar yang ditempuh adalah memberikan pelajaran “tanpa ruang kelas”. Di banyak tempat ada banyak sukarelawan yang mendampingi anak-anak. Nampaknya, efek traumatik dari gempa bumi pada anak-anak kurang lebih adalah rasa takut. Mereka dapat bermain kembali seperti biasanya. Sebenarnya, gempa bumi tersebut telah memberikan kesempatan kepada beberapa anak-anak untuk mengungkapkan tenggang rasa mereka kepada “teman-teman” mereka yang mengalami kemalangan. Di Sekolah Dasar Tarakanita, misalnya, setiap murid dihimbau untuk membawa dari rumah satu “nasi bungkus” bagi para korban. Belakangan pihak sekolah mengatur ratusan nasi bungkus tersebut untuk dibagikan di lokasi bencana. Ini adalah sebuah cara nyata untuk membantu dan membuat anak-anak sadar akan penderitaan sesama. Banyak sekolah-sekolah, kelompok-kelompok dan komunitas-komunitas menemukan cara mereka untuk membantu.

Kami mengharapkan dukungan doa agar dapat terus berharap untuk masa depan; kekuatan untuk membangun kembali dan untuk menunjukkan tenggang rasa terhadap sesama. Terlepas dari apa yang telah disampaikannya, adalah penting untuk dilihat bahwa gempa bumi ini bukanlah sebuah hukuman dari Allah.

Printed from: http://www.taize.fr/id_article3700.html - 24 October 2019
Copyright © 2019 - Ateliers et Presses de Taizé, Taizé Community, 71250 France